Selasa, 02 Februari 2010

HYMNE H M I

lagu ini wajib bagi seluruh kader HMI dimanapun berada untuk memilikinya,bahkan kalau perlu bagi kalian yang handphonnya support dengan MP3, maka wajib dimasukan lagu ini ya,.. supaya kita lebih cinta terhadap HMI


lirik:

HYMNE HMI


bersyukur dan ikhlas
himpunan mahasiswa islam
yakin usaha sampai
untuk kemajuan
hidayah dan taufik
bahagia HMI...

berdoa dan ikhlas
menjungjung tinggi siar islam
turut qur'an dan hadist
jalan keselamatan
ya Allah berkati..
bahagia HMI....

silahkan download MP3 nya DI SINI
Read rest of entry

Jumat, 25 Desember 2009

HIDAYAT NUR WAHID




biografi:

Nama: DR. H.M. HIDAYAT NUR WAHID, M.A
Lahir: Klaten, 8 April 1960
Agama: Islam
Jabatan:
= Ketua MPR 2004-2009
= Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera
Isteri: Hj. Kastrian Indriawati
Anak:
1. Inayatu Dzil Izzati
2. Ruzaina
3. Alla Khairi
4. Hubaib Shidiqi

Pendidikan:
- SDN Kebondalem Kidul I, Prambanan Klaten, 1972
- Pondok Pesantren Walisongo, Ngabar Ponorogo, 1973
- Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, 1978
- IAIN Sunan Kalijogo, Yogyakarta ( Fakultas Syari’ah), 1979
- Fakultas Dakwah & Ushuluddin Universitas Islam Madinah Arab Saudi, 1983
Judul Skripsi “ Mauqif Al-Yahud Min Islam Al Anshar”
- Program Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah Arab Saudi, jurusan Aqidah, 1987
Judul Skripsi “ Al Bathiniyyaun Fi Indonesia,”Ardh wa Dirosah”
- Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Islam Medina, Arab Saudi, Fakultas Dakwah & Ushuludiin, Jurusan Aqidah, 1992
Judul Diskripsi “Nawayidh lir Rawafidh Lil Barzanji, Tahqiq wa Dirosah”

Pekerjaan:
1. Dosen Pasca Sarjana Magister Studi Islam, UMJ
2. Dosen Pasca Sarjana Magister Ilmu Hukum, UMJ
3. Dosen Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
4. Dosen Fakultas Ushuluddin (Program Khusus) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5. Dosen Pasca Sarjana Universitas Asy-Syafi’iyah, Jakarta
6. Ketua LP2SI (Lembaga Pelayanan Pesantren dan Studi Islam) Yayasan Al-Haramain, Jakarta
7. Dewan Redaksi Jurnal “Ma’rifah”
8. Ketua Forum Dakwah Indonesia

Organisasi:
- Anggota PII, 1973
- Andalan Koordinator Pramuka Gontor bidang kesekretariatan, 1977 – 1978
- Training HMI IAIN Yogyakarta, 1979
- Sekretaris MIP PPI Madinah, Arab Saudi, 1981 – 1983
- Ketua PPI Arab Saudi, 1983 – 1985
- Peneliti LKFKH (Lembaga Kajian Fiqh dan Hukum) Al Khairot
- Anggota Pengurus badan Wakaf Pondok Modern Gontor, 1999

Seminar dan Karya Ilmiah:
1. Menghadiri undangan MASG di IIlinois, AS, 1994 (Menyampaikan prasaran)
2. Menghadiri undangan International Islamic Student Organisation di Istambul, Turki, 1996
3. Seminar Internasional madrasah wak Tanjung Al-Islamiyyah, Singapore, 1998 (Menyampaikan makalah).
4. Menghadiri undangan Seminar International dari Moslem Association of Britain di Manchester dan London.
5. Seminar mahasiswa Indonesia di Malaysia, 1999 (Menyampaikan makalah).
6. Seminar Internasional dari LIPIA dari Universitas Imam Muhammad bin Saud Riyadh, di Jakarta (Menyampaikan makalah), 1999 bersama KH. Irfan Zidny, MA, Prof.Ismail Sunni dan KH. Abdullah Syukri Zarkasi, MA.
7. Menghadiri seminar Internasional di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, bekerjasama dengan Universitas Imam Muhammad Saud, Jakarta 1999.
8. Menghadiri undangan festival nasional dan seminar internasional Janadriyah, Riyad, Arab Saudi (tahun 2000) bersama Prof. Dr. Nurcholis Madjid dan Prof. Dr. Amien Rais.
9. Menghadiri undangan seminar Perkembangan Islam di Eropa dari Islamiska Forbundet I Sverige, Stockholm, Swedia.
10. Berbagai seminar di dalam negeri
11. Membimbing dan menguji tesis master mahasiswa pasca sarjana Universitas Muhammadiyah dan IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Kata Pengantar buku-buku terjemahan:
• Prinsip-prinsip Islam untuk kehidupan oleh Prof. Sholeh Shawi
• Ensiklopedi Figh wanita oleh Prof. Abdul Karim Zaid (cetakan Rabbani Pres)
• Pengantar studi Islam oleh Ust. Prof. Yusuf Al Qordhowi (cetakan Al-Kautsar)
• As-Sunnah sebagai sumber ilmu dan kebudayaan oleh Ust. Prof. Yusuf Al Qordhowi (cetakan Al-Kautsar)
• Fitnah Kubro, klarifikasi sikap para sahabat oleh Prof. Amhazun (cetakan Al-Haramain)
• Kajian atas kajian Hadits Misogini (dalam buku Feminisme)
• Tadabbur Surah Al Kahfi (dalam bulletin Tafakkur)
• Tadabbur Surah Yasin (dalam bulletin Tafakur)
• Editor terjemah tafsir Ibnu Katsir
• Menulis rubrik HIKMAH di harian REPUBLIKA
• Beberapa makalah diseminar-seminar
• Tajdid sebagai sebuah harakah (jurnal Ma’rifah)
• Revivalisme Islam dan Fundamentalisme sekuler dalam sorotan sejarah (dalam buku menggugat gerakan pembaharuan Islam)
• Inklusivisme Islam dalam literatur klasik (dalam jurnal Profetika)

Alamat :
Jl. H. Rijin No. 196, Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi

a politisi, uztad dan cendekiawan yang bergaya lembut serta mengedepankan moral dan dakwah. Sosoknya semakin dikenal masyarakat luas setelah ia menjabat Presiden Partai Keadilan (PK), kemudian menjadi Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai ini memperoleh suara signifikan dalam Pemilu 2004 yang mengantarkannya menjadi Ketua MPR 2004-2009. Kepemimpinnya memberi warna tersendiri dalam peta perpolitikan nasional.

Setelah terpilih menjadi Ketua MPR, dia pun mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum DPP PKS, 11 Oktober 2004. Majelis Surya DPP PKS memilih Tifatul Sembiring menggantikannya sampai akhir periode (2001-2005).

Sudah menjadi komitmen partainya, setiap kader tidak pantas merangkap jabatan di partai manakala dipercaya menjabat di lembaga kenegaraan dan pemerintahan (publik). Hal ini untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan jabatan. Sekaligus untuk dapat memusatkan diri pada jabatan di lembaga kenegaraan tersebut.

Dosen Pasca Sarjana UAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini tidak pernah bercita-cita jadi politisi. Namun setelah memasuki kegiatan politik praktis namanya melejit, bahkan dalam berbagai poling sebelum Pemilu 2004 namanya berada di peringkat atas sebagai salah seorang calon Presiden atau Wakil Presiden. Namun dia mampu menahan diri, tidak bersedia dicalonkan dalam perebutan kursi presiden kendati PKS dengan perolehan suara 7 persen lebih dalam Pemilu Legislatif berhak mengajukan calon presiden dan calon wakil presiden. Dia menyatakan akan bersedia dicalonkan jika PKS memperoleh 20 persen suara Pemilu Legislatif.

Pada Pemilu Presiden putaran pertama PKS mendukung Capres-Cawapres Amien Rais-Siswono. Lalu karena Amien-Siswono tidak lolos ke putaran kedua, PKS mendukung Capres-Cawapres Susilo BY dan Jusuf Kalla dalam Pilpres putaran kedua. Dukungan PKS ini sangat signifikan menentukan kemenangan pasangan ini.

Kemudian partai-partai pendukung SBY-Kalla plus PPP (keluar dari Koalisi Kebangsaan) yang bergabung di legislatif dengan sebutan populer Koalisi Kerakyatan mencalonkannya menjadi Ketua MPR. Hidayat Nur Wahid sebagai Calon Paket B (Koalisi Kerakyatan) ini terpilih menjadi Ketua MPR RI 2004-2009 dengan meraih 326 suara, unggul dua suara dari Sucipto Calon Paket A (Koalisi Kebangsaan) yang meraih 324 suara, dan 3 suara abstain serta 10 suara tidak sah. Pemilihan berlangsung demokratis dalam Sidang Paripurna V MPR di Gedung MPR, Senayan, Jakarta 6 Oktober 2004.

Koalisi Kerakyatan mencalonkan Paket B yakni Hidayat Nur Wahid dari F-PKS sebagai calon ketua dan AM Fatwa dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN), serta dua dari unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) BRAy Mooryati Sudibyo dari DKI Jakarta dan Aksa Mahmud dari Sulawesi Selatan masing-masing sebagai calon wakil ketua. Sedangkan Koalisi Kebangsaan mencalonkan Paket A yakni Sucipto dari Fraksi PDI Perjuangan sebagai calon ketua, kemudian Theo L. Sambuaga dari Fraksi Partai Golkar dan dua unsur DPD Sarwono Kusumaatmaja dari DKI Jakarta dan Aida Ismet Nasution dari Kepulauan Riau, masing-masing sebagai calon wakil ketua.

"Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) memprihatinkan kondisi politik nasional belakangan ini, terutama anjloknya suara partai-partai Islam dalam Pemilu 2009 lalu. HMI juga memprihatinkan person-person tokoh politik Islam yang jauh dari karakteristik Islam, yakni sikap sederhana, teguh, cerdas, ikhlas, dan tawadhu. Karenanya HMI menaruh harapan besar kepada Hidayat Nurwahid, sebagai tokoh yang masih memiliki karakteristik pemimpin Islam untuk mengambil langkah-langkah koreksi dan konsolidasi untuk memperbaiki kondisi ini. “Kami berharap Bapak (Hidayat Nur Wahid) bisa menjadi tokoh nasional yang bisa mengayomi seluruh elemen masyarakat Indonesia. Dengan begitu, Indonesia bisa tampil maksimal dalam menunjukkan wajah Islam yang humanis, terbuka dan dialogis,” kata Ketua PB HMI Syahrul saat bersama pengurus HMI lainnya bersilaturrahim dengan Ketua MPR di Gedung MPR, Kamis (30/4)."

Read rest of entry

FUAD BAWAZIER




biografi :

Nama: Dr Fuad Bawazier
Lahir: Tegal, Jawa Tengah, 22 Agustus 1949
Agama: Islam

Pendidikan:
= S1 FE UGM
= S3 (doktor) ekonomi University of Maryland, Amerika Serikat

Karir:
= Asisten dosen FE UGM
= Dirjen Pajak Depkeu
= Menteri Kuangan Kabinet Pembangunan VII (1998)
= Anggota MPR-RI dari PAN 1999-2004
= Anggota DPR-RI dari PAN (2004-2009)

Organisasi:
= Pelajar Islam Indonesia (PII)
= Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
= Ketua Korps Alumni HMI (KAHMI)
= Ikatan Akuntan Indonesian (IAI)
= Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).
= Ketua DPP Partai Amanat Nasional
= Pengurus YPI Al-Azhar Jakarta
= Ketua Pengurus Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya 2002-2007
= Ketua Persahabatan Indonesia-Malaysia (Prima)

Mantan Menteri Keuangan Orde Baru ini menjadi salah satu tokoh Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Sebelumnya, dia kader Golkar yang masuk ke Partai Amanat Nasional (PAN. Namun, akhirnya secara resmi ia mengundurkan diri dari PAN, 9 Agustus 2005. Tampaknya dia sangat kecewa atas kiprah partai itu dalam menyikapi berbagai hal yang berkembang dalam tahun-tahun terakhir ini.

Apalagi pada Kongres PAN 7-10 April 2005, dia yang sempat diunggulkan menjadi Ketua Umum PAN, ternyata kalah oleh Soetrisno Bachir atas dukungan Amien Rais.

Dukungan berpihak (restu) dari Amien Rais itu pula, salah satu penyebab kekecewaannya. Dia kecewa karena pada era reformasi ini, masih kental restu-restuan di partai. Dia yakin jika pemilihan ketua umum dilakukan secara fair dan demokratis, dia akan memenangkan pemilihan itu.

Dia salah seorang kandidat yang tergolong gencar menggalang dukungan dengan mengunjungi pengurus-pengurus wilayah dan daerah. Pengalamannya di birokrasi semasa Orde Baru menjadi kekuatan tersendiri baginya.

Bagi sebagian orang, sebutan orang orde baru mungkin dianggap sebuah momok yang merugikan bahkan menakutkan. Namun, selama lebih lima tahun reformasi bergulir, mantan pejabat orde baru yang satu ini, selalu tampil percaya diri berkiprah dalam barisan orang-orang yang menyebut diri tokoh reformis sejati.

Kiprahnya di Partai Amanat Nasional justru sangat diperhitungkan, apalagi dengan pengalaman dan kekayaannya sebagai pejabat pada masa orde baru. Pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 22 Agustus 1949, yang mengawali karir sebagai asisten dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, ini menjabat Direktur Jenderal Pajak Departemen Keuangan sebelum mencapai puncak karir sebagai Menteri Keuangan terakhir rezim orde baru (1998).

Setelah bergulirnya reformasi, doktor ekonomi lulusan University of Maryland, Amerika Serikat, ini bergabung dengan tokoh reformasi Amien Rais di Partai Amanat Nasional. Ketika itu, banyak orang menduga, Fuad memang sengaja masuk dalam kubu Amien Rais yang kala itu sangat keras menghujat Pak Harto dan rezim orde baru.

Fuad dengan sangat brilian mampu berperan sedemikian baik di PAN. Pengalaman di birokrasi dan pengalaman berorganisasi yang dimiliki didayagunakannya dengan sangat intensif. Sejak sekolah, memang dia sudah gemar aktif di organisasi. Mulai dari Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sampai menjadi ketua Korps Alumni HMI (KAHMI) dan organisasi profesi Ikatan Akuntan Indonesian (IAI) dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).

Bahkan di bidang organisasi sosial dan pendidikan, juga dia berkiprah dengan serius, seperti di YPI Al-Azhar Jakarta dan Pengurus Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, di sini dia menjadi ketua periode 2002-2007. Juga dalam organisasi pergaulan antatbangsa dia berkiprah sebagai Ketua Persahabatan Indonesia-Malaysia (Prima).

Maka, dengan mengandalkan pengalaman di berbagai bidang itu pantas dia mengejar jabatn Ketua Umum PAN. "Saya pikir, dengan semua pengalaman organisasi dan birokrasi yang saya alami, wajar jika saya sekarang mengincar posisi Ketua Umum PAN," kata Fuad kepada para wartawan.

Fuad tampak percaya diri dalam pencalonannya kendati dia menghadapi negative campaign dengan tudingan sebagai orang orde baru. Dia tidak terlalu merisaukan sebutan orang orde baru itu. Dia terus maju menggalang dukungan ke beberapa wilayah (Dewan Pengurus Wilayah) dan daerah (Dewan Pengurus Daerah), dengan menyampaikan visi-misinya jika terpilih menjadi ketua umum PAN.

Dalam beberapa kesempatan dia melontarkan otokritik pada PAN. Pada Pemilu 1999, delapan bulan setelah berdirinya, PAN mampu meraih 7,4 juta suara. Namun, pada 2004, setelah lima tahun bekerja keras, suara PAN malah turun. Menurut Fuad, Ini pasti ada yang tak beres. Dia melihat, walau bukan persoalan besar, masalah-masalah kecil yang menumpuk telah menjadikan PAN seperti orang sakit kronis.

Menurutnya, selama lima tahun terakhir, PAN hanya memeras habis Amien. Sehingga Jelas tidak akan kuat. Sebab, ketokohan tidak akan mampu menopang organisasi yang demikian besar. Ketokohan, ada batas usia dan kemampuan. Makanya, dia menawarkan, harus membangun sistem yang kuat. Sebab, sstem akan jauh lebih kokoh dan langgeng dibandingkan dengan ketokohan. Kalau tokoh, 5-10 tahun pasti tumbang.

Maka dia pun sangat mengapresiasi inisiatif Amien Rais yang menyatakan tidak bersedia lagi dicalonkan. Menurutnya, rupanya Pak Amien sadar betul, kalau satu periode lagi memimpin, pasti akan mendorong lahirnya feodalisme dan kultus individu
Read rest of entry

Kamis, 24 Desember 2009

MUNIR




biografi :

Nama: Munir, SH
Lahir: Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965
Meninggal: Amesterdam, 7 September 2004
Agama: Islam
Isteri: Suciwati
Anak:Soultan Alif Allend (12 Oktober 1998), Diva (2 tahun)
Ibu: Ny Jamilah
Jabatan Terakhir: Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial
Pendidikan: S1 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, 1990

Karir:
= Karyawan perusahaan persewaan sound system dan penjualan alat elektronik
= Sukarelawan LBH Surabaya (1989)
= Ketua LBH Surabaya Pos Malang (1991)
= Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993)
= Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995)
= Direktur LBH Semarang (1996)
= Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996)
= Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997)
= Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998)
= Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) (16 April 1998-2001)
= Ketua Dewan Pengurus Kontras (2001)
= Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial (2004)

Organisasi:
= Sekretaris Al-Irsyad Kebupaten Malang (1998)
= Sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa FH Universitas Brawijaya (1988)
= Ketua Senat Mahasiswa FH Universitas Brawijaya (1989)
= Anggota HMI
= Divisi Legal Komite Solidaritas untuk Marsinah
= Sekretaris Tim Pencari Fakta Forum Indonesia Damai

Penghargaan:
= Satu orang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru oleh Majalah Asiaweek (Oktober 1999)
= Right Livelihood Award 2000 di Swedia (Pengabdian di bidang HAM dan kontrol terhadap militer di Indonesia (8 Desember 2000)
= Man of The Year versi majalah Ummat (1998)

Alamat Rumah:
Jalan Cendana XII No.12, Jakasampurna Permai, Bekasi Barat

Alamat Kantor:
Kontras: Jalan Borobudur No.14, Jakarta Pusat
YLBHI: Jalan Diponegoro No.74, Jakarta Pusat

Mantan Koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) ini pantas dijuluki sebagai pahlawan orang hilang. Dia seorang pejuang HAM sejati yang gigih dan berani. Keberaniannya jauh melampaui sosok pisiknya yang kerempeng. Namun, sayang, Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial kelahiran Malang 8 Desember 1965 ini, wafat dalam usia relatif muda, 39 tahun, dalam penerbangan menuju Amsterdam, 7 September 2004.


Pada 6 September 2004, isterinya Suciwati dan anaknya Soultan Alif Allend melepas Munir menuju Amsterdam (Belanda) untuk melanjutkan studi program master (S2) di Universitas Utrecht, Belanda. Alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini, sekitar pukul 21.55 WIB, naik Garuda Indonesia GA-974 menuju Singapura untuk kemudian transit terbang ke Amsterdam. Tiba di Singapura pukul 00.40 waktu Singapura, kemudian pukul pukul 01.50 waktu Singapura take off menuju Amsterdam.


Menurut sumber Tokoh Indonesia di PT Garuda Indonesia, tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dari Singapura, supervisor awak kabin bernama Najib melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik ke toilet. Pilot meminta Najib terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya. Penerbangan menuju Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.

Pejuang hak asasi manusia (HAM) itu, pergi untuk selama-lamanya. Bangsa ini kehilangan seorang tokoh muda yang dikenal gigih membela kebenaran sejak Pak Harto masih berkuasa. Kematian pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), itu pun segera mendapat perhatian amat luas di Indonesia. Banyak SMS dan telepon ke berbagai media menanyakan kebenaran berita duka itu.


Sejumlah orang terkejut dan bersedih. Mereka berdatangan ke rumah almarhum yang tampak sederhana di Jalan Cendana XII No.12 Jakasampurna Permai, Bekasi Barat. Di antaranya, para aktivis LSM, Munarman (YLBHI), dan Smita Notosusanto (Cetro) serta para keluarga korban pelanggaran HAM Semanggi I-II, Trisakti, Mei 98, dan Tanjung Priok.


Pejuang HAM yang sempat bekerja di sebuah perusahaan persewaan soud system dan menjual alat-alat elktronik, itu sejak mahasiswa terkenal keras hati. Sebelum menyelesaikan studinya di FH Universitas Brawidjaja (1990) sudah aktif sebagai sukarelawan LBH Surabaya (1989). Kemudian menjadi anggota LBH dan menjabat Ketua LBH Surabaya Pos Malang (1991). Lalu menjabat Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993) dan Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995).

Sebelum hijrah ke Jakarta menjabat Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996), dia lebih dulu menjabat Direktur LBH Semarang (1996). Kemudian di YLBHI dia menjabat Wakil Ketua Bidang Operasional (1997) dan Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998). Sampai kemudian dia mendirikan dan menjabat Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) (16 April 1998-2001) dan Ketua Dewan Pengurus Kontras (2001).

Saat menjabat Koordinator Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000) sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif. Sebelumnya, Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998). Ia mendapat hadiah uang dari Yayasan The Right Livelihood Award sebesar Rp 500 juta. Separoh dari hadiah itu diberikan ke Kontras dan sebagian lagi dikirim kepada ibunya di Malang untuk renovasi rumah.

Sementara, kendati namanya sudah mendunia, Munir tetap hidup bersahaja. Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial (2004), ini tinggal di rumah sederhana dan ke mana-mana naik sepeda motor. Sekali waktu motornya pernah dicuri. Padahal ia pun sering mendapat ancaman. Saat membongkar kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah, ia pun diancam akan dijadikan sosis oleh orang yang mengaku aparat keamanan. Begitu pula ketika dia membongkar kasus penculikan aktivis mahasiswa pada akhir kekuasaan Soeharto. Bahkan rumah ibunya pun (Ny Jamilah, 78) pernah diancam bom. Dia juga pernah diisukan anak Gerwani oleh sebuah majalah. Majalah itu kemudian minta maaf.


Munir merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Di kalangan keluarga, teman dekat dan tetangganya, dia dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian sosial. “Sejak mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah di kota kelahirannya dia terlihat suka menolong orang lain,” ungkap Ali Ahmad, salah seorang keluarga almarhum kepada Jawa Pos.


Minur meninggal seorang istri, Suciwati, dan dua orang anak, Sultan Alif Allende (5) dan Diva (2). Menurut penuturan isterinya, tak ada satu pun firasat yang dirasakan sebelum kepergian Munir yang begitu mendadak ini. Pertemuan mereka terakhir terjadi Senin malam 6 September 2004, tatkala mereka melepas Munir terbang ke Belanda dengan pesawat Garuda.


Mereka tiba di bandara sekitar satu setengah jam sebelum pesawat take off. Di bandara, teman-teman Munir dari Imparsial sudah ada yang ikut menunggu. Saat itu, Munir memang tampak berat berpisah dengan keluarganya. Meski, rencananya, isteri dan anaknya akan menyusul beberapa bulan kemudian. Isterinya sangat terkejut, ketika Usman Hamid (koordinator Kontras) memberitahukan meninggalnya Munir.


Belum diketahui pasti apa penyakit yang menyebabkan kematian Munir. Dalam general check up yang dilakukan sebelum Munir berangkat ke Belanda, sebagai salah satu prasyarat yang harus disertakan, kondisi kesehatannya dinyatakan baik-baik saja. Menurut Suciwati, setahun lalu, Munir memang sempat di rawat di RS Saint Carolus. “Saat itu, dokter berpesan supaya suami saya itu tidak terlalu lelah. Kalau bisa, dalam sebulan, istilahnya liburnya seminggu,” kata Suciwati.


Memang semakin mendekati hari keberangkatannya ke Belanda, Munir terlihat sibuk ke sana-kemari untuk menghadiri dengan berbagai acara dan persiapan. Misalnya, pada Selasa ada pesta perpisahan yang dilakukan Kontras. Lalu, pada Jumatnya, 3 September 2004, Munir menghadiri acara makan siang bersama di Kantor Imparsial di Jalan Diponegoro, Jakarta. Sore harinya masih ada acara "perpisahan" yang diadakan Propatria di Hotel Santika, Jakarta. Tapi, kondisi Munir saat itu tampak baik-baik.


Dalam acara itu Munir banyak menyampaikan harapan bahwa dia akan mengambil program doktor sekaligus, meskipun beasiswa yang diperolehnya hanya untuk program master di Universitas Utrecht.
Read rest of entry

LAFRAN PANE



Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk ditingkat I yang ketika itu genap berusia 25 tahun. Tentang sosok Lafran Pane, dapat diceritakan secara garis besarnya antara lain bahwa Pemuda Lafran Pane lahir di Sipirok-Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Beliau adalah anak seorang Sutan Pangurabaan Pane ???tokoh pergerakan nasional ???serba komplit??? dari Sipirok, Tapanuli Selatan-. Lafaran Pane adalah sosok yang tidak mengenal lelah dalam proses pencarian jati dirinya, dan secara kritis mencari kebenaran sejati. Lafran Pane kecil, remaja dan menjelang dewasa yang nakal, pemberontak, dan ???bukan anak sekolah yang rajin??? adalah identitas fundamental Lafran sebagai ciri paling menonjol dari Independensinya. Sebagai figur pencarai sejati, independensi Lafran terasah, terbentuk, dan sekaligus teruji, di lembaga-lembaga pendidikan yang tidak Ia lalui dengan ???Normal??? dan ???lurus??? itu (-Walau Pemuda Lafran Pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim terpelajar pernah juga menganyam pendidikan di Pesantren Ibtidaiyah, Wusta dan sekolah Muhammadiyah-) ; pada hidup berpetualang di sepanjang jalanan kota Medan, terutama di kawasan Jalan Kesawan; pada kehidupan dengan tidur tidak menentu; pada kaki-kaki lima dan emper pertokoan; juga pada kehidupan yang Ia jalani dengan menjual karcis bioskop, menjual es lilin, dll.

Dari perjalanan hidup Lafran dapat diketahui bahwa struktur fundamental independensi diri Lafran terletak pada kesediaan dan keteguhan Dia untuk terus secara kritis mencari kebenaran sejati dengan tanpa lelah, dimana saja, kepada saja, dan kapan saja.

Adapun latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah: "Melihat dan menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah keadaan tersebut. Organisasi mahasiswa ini harus mempunyai kemampuan untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan tersebut tidak akan terlaksana kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat???

sumber : http://hmisttwastukancana.blogspot.com/

Read rest of entry

KOMARUDIN HIDAYAT




biografi :

Nama: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Lahir: Muntilan, Pabelan, Magelang, 18 Oktober 1953
Agama: Islam

Jabatan:
- Rektor UIN Jakarta, 2006-2010
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu 2004

Pendidikan:
= Ponpes Pabelan, Magelang (1969)
= Sarjana Fakultas Ushuludin IAIN Jakarta (1981)
= IMaster and PhD Bidang Filsafat pada Middle East Technical University, Ankara, Turki (1995)
= Post Doctorate Research Program di Harfort Seminary, Conecricut, AS, selama satu smester (1997)
= International Visitor Program (IVP) ke AS (2002)

Pengalaman Kerja:
= Guru Besar Filsafat Agama, UIN Jakarta (2001-sekarang)
= Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina (1996-2000)
= Associate Trainer/Consultant bidang HRD pada Vita Niaga Colsultant (1999-sekarang)
= Dosen Tetap Institut Bankir Indonesia (2000-sekarang)
= Dosen Pascasarjana Universitas Gajah Mada (2003-sekarang)
= Advisory Board Member of Common Ground Indonesia (2001-sekarang)
= Ketua Panitia Pengawas Pemilu Pusat (2003-2004)
= Chairman pada Indonesia Procurement Watch (2002-sekarang)
= Direktur Eksekutif Pendidikan Madania (2001-sekarang)
= Dewan Pertimbangan Pendidikan DKI Jakarta (2004-sekarang)
= Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta (2005-sekarang)
= Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan RI (2005-sekarang)
- Ketua Panitia Pengawas Pemilu, 2004
- Rektor UIN Jakarta, 2006-2010

Karya Tulis
= Memahami Bahasa Agama (1996)
= Masa Depan Agama (1995)
= Tragedi Raja Midas (1998)
= Tuhan Begitu Dekat (2000)
= Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi (2002)
= Menafsirkan Kehendak Tuhan (2003)
= Psikologi Kematian (2005)

Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta dan mantan Ketua Panwaslu 2004 Prof Dr Komaruddin Hidayat terpilih dengan suara muutlak (61 dari 80 suara senat) sebagai rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk masa bakti 2006-2010. Dia menggantikan Prof Dr Azyumardi Azra, MA, yang sudah dua kali menduduki jabatan tersebut.

Komaruddin terpilih dalam rapat Senat Universitas yang dipimpin Azyumardi, di Auditorium Utama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (17/10/2006). Komaruddin menang mutlak dengan meraih 61 suara dari 80 suara anggota senat. Dia mengungguli dua calon lainnya, yaitu Prof. Dr. Masykuri Abdillah yang memperoleh 16 suara dan Prof. Dr. Suwito mendapat 2 suara. Satu suara lainnya tidak sah..


Lahir di Magelang, Jawa Tengah, 18 Oktober 1953. Alumni pesantren modern Pabelan, Magelang (1969) dan pesantren al-Iman, Muntilan (1971). Menyelesaikan Sarjana Muda (BA) di bidang Pendidikan Islam (1977) dan Sarjana Lengkap (Drs.) di bidang Pendidikan Islam (1981) di IAIN Jakarta. Meraih doktor di bidang Filsafat Barat di Middle East Techical University, Ankara, Turkey (1990).

Menulis di berbagai media massa. Dosen pada Fakultas Pasca Sarjana IAIN Jakarta (sejak 1990); dosen pada Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia (sejak 1992); dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara (sejak 1993). Selain sebagai dosen, ia juga sebagai Dewan Redaksi majalah Ulumul Qur`an (sejak 1991); Dewan Redaksi jurnal Studia Islamika (sejak 1994); Dewan Editor dalam penulisan Encylopedia of Islamic World; dan Direktur pada Pusat Kajian Pengembangan Islam Kontemporer, IAIN Jakarta (sejak 1995). Sejak tahun 1990, ia merupakan salah satu peneliti dan dosen tetap Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta

Ketua Panwaslu 2004
Yang lebih penting Pemilu 2004 adalah mementum penting supaya semua pihak memiliki kehidupan berpolitik sesuai etika dan beradab. "Tugas Panwaslu adalah mengawasi semua pihak peserta Pemilu agar tetap di rel etika dan beradab sesuai ketentuan hukum," tukas ketua Panwaslu Prof Dr kommaruddin Hidayat.

Duduk sebagai nahoda di Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Pusat adalah Prof Dr Komaruddin Hidayat. Cendekiawan muslim yang mengawali pendidikannya di Pondok Pesantren Pabelan Magelang (1969) itu terpilih menjadi Ketua Panwas Pusat.

Mengantongi gelar Master dan Philoshophy of Doctor (PhD) dari Universitas Ankara, Turki (1990) bagi mantan birokrat ketika menjabat Dirjen Dikti Departemen Agama, ini jabatan baru buat Komarudin. Betapa tidak, ia juga harus bergelut sebagai staf pengajar pasca sarjana di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jakarta.

Mengusik latarbelakangnya, agaknya terlalu dini untuk menyebut Komaruddin yang Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina ini sebagai pembawa label generasi pewaris Cak Nur, Sebab, menurutnya, bertugas di Panwaslu adalah demi kepentingan semua pihak itu.

Komarudin, 40 tahun, menuturkan, salah satu motivasinya bertugas di Panwaslu adalah berusaha untuk mengakhiri jargon "masa transisi" seperti banyak dipergunjingkan dalam kehidupan berpolitik di negara ini. Memang disebut-sebut, pelanggaran dalam proses pemilu adalah ciri khas bangsa di masa transisi. Masa lalu lazimnya dituding karena pemerintah tidak membuka keran penuh, tidak saja bagi edukasi berpolitik massa, juga di sektor kehidupan lainnya.

Justru itu Pemilu 2004 harus berhasil, dalam arti target bahwa wakil rakyat dan pemerintah sesuai dengan keinginan rakyat harus dicapai. "Panwaslu bekerja untuk menjadikan Pemilu 2004 sebagi titik recovery. Kita harus mengakhiri masa transisi. Jika gagal, negara ini akan semakin rusak," kata Komarudin.

Di bagian lain, menurut catatan sementara yang diperoleh, sejak awal Panwaslu terbentuk sudah ada puluhan kasus pelanggaran Pemilu yang dilaporkan masyarakat dan sedang diproses di Panwaslu. Bahkan, sebagian dari laporan masyarakat itu, karena memenuhi syarat, telah dilimpahkan Panwaslu ke pihak penyidik dalam hal ini kepolisian.

Biasnya, indikasi ini bisa menepis sikap skeptis sementara pihak bahwa Panwaslu-seperti pendahulunya-- tidak akan bisa berbuat banyak dalam upaya penegakan hukum terhadap pelaku pelanggaran Pemilu. "Semua pihak harus mendukung tugas Panwaslu. Masyarakat harus mau lapor jika ada pelanggaran Pemilu," tukas ketua Panwaslu.

Tak tampak siksaan sibuk bagi Komaruddin ketika ada panggilan tugas Panwaslu. Misalnya soal waktu berkumpul dengan keluarga, kapan? Justru, di hari-hari libur tugas Panwaslu acap memanggil. "Tidak masalah. Dari dahulu saya sering mengajak keluarga ikut dengan saya ke lapangan. Biar mereka mengerti apa saja yang saya kerjakan sehari-hari," tuturnya. (http://www.panwaspemilu.org/p_ang_hidayat.php)


Ke Jakarta untuk Menaklukan Kemiskinan

Indopos, Minggu, 22 Okt 2006: Puncak karir dunia akademik tergapai. Meraih gelar doktor hingga profesor. Yang terbaru, Komaruddin Hidayat dipercaya menjadi rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Apa filosofi hingga dia mencapai mahkota karirnya itu?

Suatu saat Komar, demikian sapaan akrabnya, didaulat menjadi pembicara di hadapan rektor dan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Kampus UGM itu memang tidak jauh dari kampung Komar, Magelang. Kira-kira satu jam perjalanan. Saat itu, Komar merenung, kok bisa dirinya berbicara di hadapan para profesor di kampus bergengsi itu. Dia tertawa merefleksi perjalanan hidupnya tersebut.

Sebagai seorang santri tulen, dulu Komar berpikir bahwa UGM itu menjadi almamater yang tidak terjangkau. "Dulu saya mimpi untuk masuk saja tidak berani, apalagi jadi dosen di sana karena memang tidak ada jalurnya bagi orang miskin yang besar di pesantren," katanya. Jadi, kata Komar, dia sering tertawa sendiri.

Kini, hal yang untuk dimpikan saja tak berani itu menjadi kenyatan. Komar dipercaya menjadi dosen di program Pascasarjana UGM. Anehnya, untuk menjadi pengajar di kampus yang terletak di sebelah tanah kelahirannya tersebut, dia harus berputar-putar terlebih dahulu. "Hidup ini memang sandiwara. Untuk bisa melakukan itu, saya harus bertahun-tahun berputar melalui Jakarta, Amerika, Kanada, Turki, dan lainnya," kata mantan ketua Panwaslu 2004 tersebut.

Untuk bisa seperti sekarang, Komar mengaku memiliki motivasi besar yang dilatarbelakangi empat hal penting yang menjadi titik balik bagi hidupnya. Pertama, kondisi kampung halaman yang menyedihkan. Kedua, wafatnya ibu tercinta sejak kecil. Ketiga, sosok neneknya, Qomariyah, yang arif dan menanamkan spirit kehidupan yang besar. Keempat, hadirnya sosok Kiai Hamam Ja’far dan kondisi pesantren yang menjadi setting sosial tempat dirinya tumbuh menjadi sosok yang dewasa.

Komar mengaku sangat trenyuh melihat realitas sosial yang timpang di kampung halamannya. "Saya melihat toko-toko besar di sekitar kampung saya itu menindas masyarakat saya. Ketika saya pulang dari studi, kondisi tersebut tidak berubah. Banyak teman-teman masa kecil saya yang nasibnya mengenaskan sebagai petani," ujarnya.

Pemerintah, jelas Komar, sama sekali tidak berhasil mengangkat harkat dan martabat masyarakat petani. Di sisi lain, harta kekayaaan negara dihabiskan untuk foya-foya oleh para pejabat korup. "Ini menjadi spirit saya untuk gesit dalam bergerak. Saat itu saya bertekad untuk meninggalkan kampung yang tidak memberikan harapan itu, no hope no future," tegasnya. Komar berharap, suatu saat dirinya akan kembali untuk memberikan sesuatu yang berarti kepada masyarakat di kampungnya.

Spirit itu dikuatkan kerinduannya akan sosok seorang ibu yang telah lama meninggalkannya. Dengan semangat yang menggebu, Komar muda nekat bertarung di ibu kota Jakarta. Dia ingin membuktikan keberhasilannya kepada sang orang tua.

Akar motivasi perubahan tersebut diperkuat hadirnya seorang nenek dari garis ibu, yang sejak kecil mengasuhnya. Sejak kecil, tanpa disadari, sang nenek yang bernama Qomariyah itu memberikan hipnoterapi kepada Komar. Dalam ilmu psikologi, 88 persen perilaku seseorang itu digerakkan alam bawah sadarnya (Hipnoteraphy for Education: 2006).

Alam bawah sadar tersebut tersusun dari rekaman masa lalu berupa keinginan yang terpendam. "Sejak kecil, saya akrab dengan nenek karena sejak usia 9 tahun, ibu sudah meninggal. Setiap malam, antara tidur dan tidak, saya melihat nenek salat tahajud. Beliau juga membaca Alquran. Seusai melakukan itu, kepala saya diusap-usap, lalu ditiupkan petuah-petuah orang tua," katanya.

Komar menceritakan, sembari mendendangkan salawat nabi, sang nenek sering bertutur, "Komar, nanti kalau kamu besar, kamu akan mencangkul, tapi tidak menggunakan cangkul, tetapi menggunakan pena dan bolpoin. Komar, nanti kalau kamu besar, rumahmu terang benderang, tidak seperti rumah ini yang diterangi lampu teplok. Komar, kelak kamu akan jalan-jalan berkeliling dunia, naik pesawat terbang, nanti kamu banyak temannya," ujar sang nenek yang hidup dalam kondisi sangat sederhana itu.

Menurut Komar, apa yang dituturkan neneknya itu terekam dalam alam bawah sadar dan menjadi sugesti positif, yang menggerakkan kesadaran dan otak kanannya dalam meniti hidup. "Apa yang dilakukan nenek saya tersebut telah mengondisikan saya untuk mengakrabi dunia filsafat. Waktu itu saya tidak tahu itu filsafat," ujar mantan wartawan majalah Panji Masyarakat tersebut.

Selain pentingnya sosok sang nenek, karakter personal Komar diperkuat kehadiran Kiai Hamam Ja’far di Pesantren Pabelan, Magelang. Komar menilai, sosok Kiai Hamam yang sudah dianggap sebagai ayahnya itu seperti sosok Nabi Musa. Yakni, figur pemimpin, panutan, dan pemberi petunjuk yang selalu bersikap keras untuk menaklukkan ketimpangan dan kemiskinan.

"Kiai Hamam mengajarkan kepada saya bahwa manusia punya hak untuk merdeka, untuk hidup. ’Bumi ini untuk manusia, maka kamu berhak menikmati hidup ini’ kata guru saya. Itulah ajaran Alquran untuk menjunjung spirit dan etos hijrah dalam menjalani hidup," katanya. Sang kiai juga berpesan, "Lihat air itu, kalau mandek, dia akan menjadi penyakit dan kalau bergerak, dia akan bersih," kenangnya.

Karena desa miskin, ibu meninggal, nenek filosofis, dan sosok kiai serta dunia pesantren yang memiliki kondisi sosial berbeda itu Komar memiliki spirit "liar" untuk memperbaiki hidup dan masyarakat.

"Umur 18 tahun, saya bertekad mendatangi Jakarta. Prinsip saya, kalau di Jakarta itu banyak gula, saya ibarat semut, masak saya tidak tidak akan merasakan manisnya gula itu," ungkapnya. Saat itu, Komar tidak berpikir kerasnya persaingan di ibu kota. "Saya yakin ibu kota memberi harapan besar pada saya. Di sana ada ilmu, uang, informasi, dan sebagainya. Waktu itu saya nekat bermodal dengkul," tegas Komar.

Komar memegang prinsip bahwa kalau kita ingin menolong orang lain, tolonglah diri kita sendiri. "Berdiri pada kaki sendiri adalah pangkal kesuksesan (al-I’timad ala an-nafsi asasu an-naja). Jangan pikir orang lain dulu, tapi pikirkan dirimu sendiri lebih dahulu," tegasnya.

Di balik kesuksesannya itu, Komar melihat bahwa doa orang tua adalah faktor yang sangat mustajab. "Saya kadang malu meminta-minta kepada Allah. Sebab, kalau saya minta, saya merasa selalu dikabulkan. Saya takut pada Allah untuk tidak bisa bersyukur. Maka, saya selalu berdoa allahummaj’alni mina al-syakirin, jadi saya malu kalau tidak bersyukur," katanya.

Ke depan Komar mengaku ingin menjalani hidup dengan mengalir. "Saya berprinsip yesterday is history, now is gift or present, tomorrow is mystery. Jadi, let us celebrate the life. Hidup itu rekreasi, jadi harus happy dengan cara berbuat baik dan beramal saleh," ujarnya. Kita sekarang harus menanam benih di kebun, lanjut Komar, siapa tahu kafilah berikutnya bisa memetik buahnya. Siapa tahu juga bisa dibuat berteduh oleh orang yang berlalu. "Dengan cara itu, kelak kalau pulang kampung (meninggalkan dunia yang fana ini, Red) kan bisa tenang," ujarnya.
Read rest of entry

AZYUMARDI AZRA




Biografi :

Nama: Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA
Lahir: Lubuk Alung, Sumatera Barat, 4 Maret 1955
Agama: Islam
Istri: Ipah Fariha, kelahiran Bogor 19 Agustus 1959 (Menikah: 13 Maret 1983)
Anak: Raushanfikri Usada, Firman El-Amny Azra, Muhammad Subhan Azra, dan Emily Sakina Azra
Pendidikan:
1. Fakultas Tarbiyah, IAIN Jakarta, 1982
2. Master of Art (MA), Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah, Columbia University, 1998
3. Master of Philosophy (Mphil), pada Departemen Sejarah, Columbia University, tahun 1990
4. Doktor Philosophy Degree, tahun 1992
Karir:
1. Wartawan Panji Masyarakat (1979-1985)
2. Dosen Pasca Sarjana Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1992-sekarang)
3. Guru Besar Sejarah Fakultas Adab IAIN Jakarta
4. Pembantu Rektor I IAIN Jakarta (1998)
5. Rektor IAIN (UIN)Jakarta (1998-2006)
6. Professor Fellow di Universitas Melbourne, Asutralia (2004-2009)
7. Anggota Dewan Penyantun (Board of Trustees) International Islamic University Islamabad, Pakistan (2004-2009)
Kegiatan Lain :
1. Ketua Umum Senat Mahasiswa Fak Tarbiyah IAIN Jakarta (1979-1982)
2. Ketua Umum HMI Cabang Ciputat (1981-1982)
3. Anggota Selection Committee Toyota Foundation & The Japan Foundation (1998-1999)
4. Anggota SC SEASREP (1998)
5. Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) (1998-sekarang)
6. Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS)
7. Anggota the International Association of Historian of Asia (1998-sekarang)
8. Visiting Fellow pada Oxford Centre for Islamic Studies, Oxford University (1994-1995)
9. Dosen Tamu University of Philippines dan University Malaya (1997)
10. External Examiner, PhD Program Universiti Malaya (1998-sekarang)
11. Anggota Dewan Redaksi Jurnal Ulumul Quran
12. Anggota Dewan Redaksi Islamika
13. Pemimpin Redaksi Studia Islamika
14. Wakil Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat IAIN Jakarta
15. Anggota Redaksi Jurnal Qquranic Studies, SOAS/University of London
16. Anggota Redaksi Jurnal Ushuludin Univeristy Malaya, Kuala Lumpur
Menulis 18 buku tentang Islam dan memiliki koleksi 15.000 judul buku
Buku Terbit:
1. Jaringan Ulama, terbit tahun 1994
2. Pergolakan Poitik Islam, terbit tahun 1996
3. Islam Reformis, terbit tahun 1999
4. Konteks Berteologi di Indonesia, terbit tahun 1999
5. Menuju Masyarakat Madani, terbit tahun 1999
6. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, terbit tahun 1999
7. Esei-esei Pendidikan Islam dan Cendekiawan Muslim,1999
8. Renaisans Islam di Asia Tenggara –buku ini berhasil memenangkan penghargaan nasional sebagai buku terbaik untuk kategori ilmu-ilmu sosial dan humaniora di tahun 1999, terbit tahun 1999
9. Islam Substantif, terbit tahun 2000
10. Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas dan Aktor Sejarah (2002)
11. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi (2002)
12. Reposisi Hubungan Agama dan Negara (2002)
13. Menggapai Solidaritas: Tensi antara Demokrasi, Fundamentalisme, dan Humanisme (2002)
14. Konflik Baru Antar-Peradaban: Globalisasi, Radikalisme, dan Pluralitas
15. Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (2002)
16. Surau: Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi (2003)
17. Disertasi doktor berjudul “The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries’”, pada tahun 2004 sesudah direvisi diterbitkan secara simultan di Canberra (Allen Unwin dan AAAS), di Honolulu (Hawaii University Press), dan di Leiden Negeri Belanda (KITLV Press).
Penghargaan:
Penulis Paling Produktif, dari Penerbit Mizan, Bandung, tahun 2002


Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, ini perlahan namun pasti semakin kokoh sebagai pemikir Islam pembaharu. Pemilik nama Azyumardi Azra yang mempunyai arti mendalam sebagai “permata hijau”, tak kurang telah menulis sembilan buku tentang Islam. Koleksi bukunya sudah mencapai 15.000 judul buku. Namanya pun diapit lengkap oleh gelar Prof., Dr., dan MA.

Menurut pengakuan pria Minangkabau kelahiran Lubuk Alung, Sumatera Barat, 4 Maret 1955 , ini perjalanan hidupnya mengalir begitu saja, seperti air. Sikap intelektualnya pun bertumbuh alami dari awal seiring dengan komunitas diskusi yang dimasukinya. Ketika masih mahasiswa, komunitas intelektualnya adalah Forum Diskusi Mahasiswa Ciputat (Formaci), kemudian HMI di lingkungan Ciputat, lalu meningkat ke LP3ES, bahkan sampai ke LIPI sebelum melanglang buana ke mancanegara. Sekarang daya nalar intelektualnya dibutuhkan dimana-mana sebagai rujukan untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa.

Azyumardi Azra kini dikenal pula sebagai profesor yang ahli sejarah Islam dan nilai-nilai hidup Nabi Muhammad. Sejak tahun 1998 hingga sekarang dia adalah rektor pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang sejak Mei 2002 lalu berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Pada awalnya sesungguhnya Azyumardi tidaklah berobsesi atau bercita-cita menggeluti studi keislaman. Sebab, dia lebih berniat memasuki bidang kependidikan umum di IKIP. Adalah desakan ayahnya, yang menyuruh Azyumardi masuk ke IAIN sehingga dia kini dikenal sebagai tokoh intelektual Islam masa depan. Dia lahir dari ayah Azikur dan ibu Ramlah.

Azyumardi lulus dari Fakultas Tarbiyah, IAIN Jakarta pada tahun 1982. Pada tahun 1986 memperoleh beasiswa Fullbright Scholarship untuk melanjutkan studi ke Columbia University, Amerika Serikat. Dia memperoleh gelar MA (Master of Art) pada Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah pada tahun 1998. Kemudian, memenangkan beasiswa Columbia President Fellowship dari kampus yang sama, tapi kali ini Azyumardi pindah ke Departemen Sejarah, dan memperoleh gelar MA lain di tahun 1989, kemudian gelar Master of Philosophy (Mphil) di tahun 1990, serta doktor Philosophy Degree (PhD) di tahun 1992 dengan disertasi berjudul “The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian `Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”. Disertasi ini bahkan telah dipublikasikan oleh Australia Association of Asian Studies bekerjasama dengan Allen Unwin.

Kembali ke Jakarta, di tahun 1993 Azyumardi mendirikan sekaligus menjadi pemimpin redaksi Studia Islamika, sebuah jurnal Indonesia untuk studi Islam. Kembali melanglang buana, pada tahun 1994-1995 dia mengunjungi Southeast Asian Studies pada Oxford Centre for Islamic Studies, Oxford University, Inggris, sambil mengajar sebagai dosen pada St. Anthony College. Azyumardi pernah pula menjadi profesor tamu pada University of Philippines, Philipina dan University Malaya, Malaysia keduanya di tahun 1997. Selain itu, dia adalah anggota dari Selection Committee of Southeast Asian Regional Exchange Program (SEASREP) yang diorganisir oleh Toyota Foundation dan Japan Center, Tokyo, Jepang antara tahun 1997-1999.

Di tahun 2001 Azyumardi Azra memperoleh kepercayaan sebagai profesor tamu internasional pada Deparmen Studi Timur Tengah, New York University (NYU). Sebagai dosen, dia antara lain mengajar pada NYU, Harvard University (di Asia Center), serta pada Columbia University. Dia juga dipercaya menjadi pembimbing sekaligus penguji asing untuk beberapa disertasi di Universiti Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia, maupun di University of Leiden.

Suami dari Ipah Fariha serta ayah empat orang anak, Raushanfikri Usada, Firman El-Amny Azra, Muhammad Subhan Azra, dan Emily Sakina Azra ini, juga aktif mempresentasikan makalah pada berbagai seminar dan workshop setingkat nasional maupun internasional. Pria yang pernah tercatat sebagai wartawan “Panji Masyarakat” di tahun 1979-1985 ini, telah menulis dan menterbitkan buku antara lain berjudul Jaringan Ulama (Tahun 1994), Pergolakan Poitik Islam (1996), Islam Reformis (1999), Konteks Berteologi di Indonesia (1999), Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (1999), Esei-esei Pendidikan Islam dan Cendekiawan Muslim (1999), Renaisans Islam di Asia Tenggara –buku ini berhasil memenangkan penghargaan nasional sebagai buku terbaik untuk kategori ilmu-ilmu sosial dan humaniora di tahun 1999, dan buku Islam Substantif (tahun 2000).

Pehobi joging dan menonton pertandingan sepakbola ini awalnya menampik sebagai pimpinan kampus, terutama ketika ditunjuk menjadi Pembantu Rektor (Purek) I Bidang Akademik. Namun dia sadar, adalah kampusnya itu yang telah membentuk kadar intelektualnya, yang telah pula mengirimnya sekolah kemana-mana sehingga semuanya dianggapnya sebagai utang. Kesediaan menjadi Purek ternyata bermakna lain, menjadi sinyal bagi sejawatnya bahwa jika dipercayakan sebagai rektor dia pasti tidak bisa menolak. “Itu saya sebut sebagai musibah,” katanya suatu ketika, menanggapi penunjukannya sebagai rektor.

Dia pun lantas memperlebar makna kampusnya, dari IAIN manjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah sejak Mei 2002 lalu. Perubahan itu disebutkannya sebagai kelanjutan ide rektor terdahulu Prof. Dr. Harun Nasution, yang menginginkan lulusan IAIN haruslah orang yang berpikiran rasional, modern, demokratis, dan toleran. Lulusan yang tidak memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum, tidak memahami agama secara literer, menjadi Islam yang rasional bukan Islam yang madzhabi atau terikat pada satu mazhab tertentu saja. Itulah sebabnya, kata pemilik 12 ribu mahasiswa itu, untuk mencapai ide tersebut institusinya harus dibenahi agar ilmu umum dan agama bisa saling berinteraksi. Dan satu-satunya cara adalah mengembangkan IAIN menjadi universitas sehingga muncullah fakultas sains, ekonomi, teknologi, MIPA, komunikasi, matematika, dan lain-lain.

Azyumardi juga ingin agar wawasan keislaman akademik yang dikembangkannya harus mempunyai wawasan keindonesiaan sebab hidup kampusnya di Indonesia. “Jadi, keislaman yang akan kita kembangkan itu adalah keislaman yang konstekstual dengan Indonesia karena tantangan umat muslim di sini adalah tantangan Indonesia,” ujarnya. Pendekatannya terhadap agama adalah pendekatan yang tidak berfanatisme dan bermadzhab, berbeda dengan anak-anak yang memahami agama secara literer yang cenderung hitam putih
Read rest of entry
 

About Me

Foto saya
SALAM HANGAT UNTUK PARA PENGIBAR PANJI PANJI HIJAU HITAM DALAM MEWUJUDKAN CITA CITA BANGSA DENGAN PENGHAYATAN YAKIN USAHA SAMPAI UNTUK SELALU BERSYUKUR DAN IKHLAS DALAM MENCAPAI PUNCAK PERJUANGAN

Term of Use